melanjutkan cerita, minggu kemarin saya juga berhasil menuntaskan rasa penasaran terhadap makam salah satu Wali Songo, Sunan Muria, letaknya cukup dekat dari pusat Kota Kudus, sekitar 20KM-an ke arah utara, arah perbukitan Gunung Muria/Colo.

jujur, klo dari segi pemandangan dan jalan sih biasa saja, jalannya meski sempit cukup bagus aspalnya, menanjak *ya iyalah di pegunungan hahaha πŸ˜† sering kali harus berpapasan dengan bus-bus pariwasata yang gede itu

sampai disini saya tidak banyak eksplore karena sudah terlalu sore, hampir magrib dan saya sendirian, sampai disini saya langsung sholat ashar di masjid sunan muria.



ada hal yang menarik disini diluar wisata religinya, apa itu? bagi saya yang suka dengan dunia motor, attitude para ojekers disini luar biasa, bisa dikatakan wow, mereka cukup ‘brutal’ dalam menaklukkan tikungan dan tanjakan disini, karena memang bus/mobil tidak boleh naik keatas ke obyek2 wisata lainnya jadi klo ga mau gempor jalan kaki ya harus naik ojek :mrgreen:, jumlah ojekersnya banyak sekali dengan seragam rompi kuning disponsori salah satu provider telepon.

liat para ojekers ini silahkan dibayangkan saja kelakuan beberapa klub/komunitas motor yg suka rada ‘arogan’ pas lagi turing, haha, klakson, bleyer-beleyer gas motor, wuihhhhh, selap selip karena sekali jalan bawa penumpang biasanya bisa 3-6 motor jalan bareng, sadissss

motor mereka pun mendukung untuk itu, sejauh pengamatan saya tidak ada satupun ojek matic πŸ˜† yang mayoritas adalah motor batangan keren seperti Honda Tiger Revo, Yamaha Scorpio, Honda Megapro, Yamaha Byson, Honda GL Series, Yamaha RX-King, sedangkan bebek sebagai minoritas.

pangkalan ojeknya pun, urutan berjajarnya kaya urutan di dragrace, haha tinggal kasih ‘christmas tree’ jadinya dragrace digunung :lol:, mereka cukup tertib dengan selalu menggunakan helm saat berkendara, tapi penumpangnya tidak πŸ˜€

* ahhh andaikan bukan di jepret dengan kamera hp jadul, pasti bisa dapet gambar “panning” yang lebih dramatisir hihi * nabunngg nabungg πŸ˜€

Advertisements